-->

Kekuasaan Tidak Pernah Berdiri Sendiri

REDAKSI


Oleh: Jamaluddin

Pohon yang paling tinggi di hutan sering menjadi pusat perhatian. Orang memuji batangnya yang kokoh, dahannya yang rindang, dan bayangannya yang meneduhkan. Namun hampir tidak ada yang memuji akar yang tersembunyi di dalam tanah. Padahal, bukan batang yang membuat pohon itu tetap berdiri. Bukan pula daun yang membuatnya bertahan menghadapi badai. Semua itu bergantung pada akar yang tak pernah terlihat.

Begitulah kekuasaan.

Yang tampak di mata manusia adalah jabatan, kewenangan, dan segala simbol yang mengikutinya. Ada ruang kerja yang luas, kursi yang lebih tinggi, kendaraan dinas, ajudan, atau pengawal. Semua itu mudah dilihat, mudah dikagumi, bahkan terkadang membuat orang merasa kecil ketika berdiri di hadapannya.

Baca juga: Jabatan Bisa Dipinjamkan, Pengaruh Harus Diperjuangkan

Namun kekuasaan yang sesungguhnya tidak pernah hidup pada simbol-simbol itu.

Ia hidup pada sesuatu yang jauh lebih sunyi: kepercayaan.

Tidak sedikit orang yang memperoleh jabatan dengan mudah, tetapi gagal memperoleh kepercayaan. Sebaliknya, ada yang tidak pernah mengejar jabatan, namun setiap ucapannya didengar, setiap nasihatnya dipertimbangkan, dan setiap kehadirannya membawa ketenangan. Ia tidak memiliki kewenangan untuk memerintah, tetapi memiliki pengaruh yang membuat orang bersedia mengikuti.

Di situlah kita belajar bahwa jabatan dan kekuasaan bukanlah dua hal yang selalu berjalan beriringan.

Jabatan dapat diberikan melalui sebuah keputusan. Kekuasaan yang sejati tumbuh perlahan, seperti akar yang mencari jalan di dalam tanah. Ia dibangun oleh kejujuran yang berulang, oleh keputusan yang adil, oleh keberanian memikul tanggung jawab, dan oleh kesediaan mendengar ketika semua orang ingin didengar.

Sayangnya, banyak orang lebih sibuk mempercantik batang daripada merawat akar.

Mereka mengejar citra, tetapi melupakan karakter. Mereka membangun kemegahan, tetapi mengabaikan kepercayaan. Mereka percaya bahwa selama jabatan masih melekat, semua akan tetap baik-baik saja.

Padahal sejarah telah berkali-kali mengajarkan sebaliknya.

Tidak ada benteng yang runtuh dalam sehari. Retakan kecil yang dibiarkan, perlahan menjadi celah. Celah berubah menjadi keruntuhan. Begitu pula kekuasaan. Ia jarang hancur karena satu kesalahan besar. Lebih sering ia roboh karena kepercayaan yang sedikit demi sedikit terkikis, tanpa pernah disadari.

Kepercayaan memang tidak bersuara.

Ia tidak meminta panggung.

Ia tidak menuntut penghargaan.

Namun ketika ia pergi, seluruh bangunan kekuasaan kehilangan penopangnya.

Baca juga: Durian, Lemang, dan Kemewahan yang Sering Kita Lupakan

Karena itu, pemimpin yang bijaksana tidak pernah hanya menghitung berapa banyak orang yang mematuhi perintahnya. Ia lebih memilih menghitung berapa banyak orang yang tetap percaya kepadanya ketika keputusan yang diambil tidak populer.

Sebab kepatuhan sering lahir dari kewenangan.

Tetapi kepercayaan lahir dari keteladanan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihatnya dengan jelas. Ada guru yang pensiun bertahun-tahun lalu, tetapi murid-muridnya masih datang meminta nasihat. Ada tokoh masyarakat yang tidak pernah menduduki jabatan penting, namun kata-katanya mampu meredakan perselisihan. Ada pula pemimpin yang setelah lengser justru semakin dihormati, karena yang diwariskannya bukan rasa takut, melainkan rasa hormat.

Sebaliknya, ada pula mereka yang ketika masih berkuasa tampak begitu kuat. Setiap ruangan terbuka untuknya. Setiap acara menempatkannya di kursi paling depan. Setiap ucapannya disambut tepuk tangan. Namun begitu masa jabatannya berakhir, keramaian itu ikut menghilang. Bukan karena orang berubah, melainkan karena selama ini yang dihormati hanyalah simbol kekuasaannya.

Peristiwa seperti itu seharusnya menjadi cermin bagi siapa pun yang memegang amanah.

Jabatan adalah titipan.

Kekuasaan adalah ujian.

Sedangkan kepercayaan adalah warisan.

Warisan itulah yang akan tetap hidup ketika papan nama sudah diturunkan, ruang kerja telah ditempati orang lain, dan segala fasilitas tinggal menjadi kenangan.

Pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena seberapa tinggi kursi yang pernah didudukinya. Ia dikenang karena seberapa kuat akar kepercayaan yang ditanamnya selama memegang amanah.

Sebab badai tidak pernah memilih pohon yang paling tinggi untuk dijatuhkan. Badai hanya menguji, apakah akar yang menopangnya masih cukup kuat untuk bertahan.

Begitu pula kekuasaan.

Ia tidak pernah berdiri sendirian.

Ia selalu berdiri di atas kepercayaan yang diberikan orang lain.

Dan ketika kepercayaan itu hilang, kekuasaan tidak lagi kehilangan sebagian dirinya.

Ia kehilangan segalanya.

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Media Singkil Terkini.

Komentar Anda

Terimakasih Atas Kunjungannya, Silahkan berkomentar dengan bijak, Komentar Spam dan/atau berisi link aktif tidak akan ditampilkan. Terimakasih.

Berita Terkini