Oleh: Jamaluddin
Pagi itu, seorang ayah berdiri cukup lama di depan rak perlengkapan sekolah. Tangannya memegang sepasang sepatu yang akan dipakai anaknya memasuki tahun ajaran baru. Di sampingnya, sang ibu sibuk menghitung isi dompet sambil sesekali membuka daftar kebutuhan yang belum terbeli.
"Seragam sudah."
"Tas sudah."
"Tapi buku tulis belum."
"Uang transportasi?"
"Bekal sekolah?"
Percakapan sederhana seperti itu mungkin terdengar biasa. Namun, bagi jutaan keluarga di Indonesia, itulah kenyataan yang datang setiap kali sekolah kembali dimulai.
Di satu sisi, pemerintah patut diapresiasi karena terus memperluas akses pendidikan melalui berbagai kebijakan, termasuk pembebasan biaya sekolah di banyak satuan pendidikan negeri. Bahkan kini hadir Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membantu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Bagi banyak keluarga, terutama mereka yang berpenghasilan rendah, program ini menjadi angin segar yang benar-benar dirasakan manfaatnya.
Namun, setelah anak-anak menikmati makan siang di sekolah, orang tua tetap membawa pulang daftar kebutuhan yang belum selesai.
Seragam harus diganti karena tubuh anak terus bertumbuh. Sepatu yang tahun lalu masih muat kini mulai sempit. Buku tulis, alat tulis, tas, hingga ongkos transportasi tetap harus dipenuhi. Di banyak keluarga, kebutuhan itu tidak datang satu per satu, melainkan bersamaan.
Belum lagi perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru. Telepon pintar dan akses internet yang dahulu dianggap pelengkap kini sering menjadi bagian dari proses belajar. Tugas sekolah, informasi dari guru, hingga materi pembelajaran semakin banyak disampaikan melalui media digital. Mau tidak mau, orang tua harus menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Bagi keluarga yang memiliki satu anak, semua itu mungkin masih dapat diatasi. Namun, bayangkan seorang buruh harian, petani, nelayan, atau pedagang kecil yang memiliki tiga atau empat anak sekolah dalam waktu bersamaan. Ketika satu kebutuhan selesai dipenuhi, kebutuhan lain sudah menunggu.
Sering kali, yang dikorbankan bukan keinginan, melainkan kebutuhan orang tua sendiri.
Seorang ayah menunda memperbaiki sepeda motornya agar anaknya bisa membeli seragam baru.
Seorang ibu mengurangi belanja dapur supaya uang jajan anak tetap tersedia hingga akhir pekan.
Ada yang menunda membeli pakaian baru. Ada yang mengurangi kebutuhan rumah tangga. Bahkan ada yang rela mengambil pekerjaan tambahan agar anaknya tidak merasa berbeda dengan teman-temannya di sekolah.
Pengorbanan-pengorbanan seperti ini jarang terlihat. Tidak masuk dalam laporan statistik. Tidak menjadi angka dalam dokumen anggaran. Namun, itulah bentuk cinta yang setiap hari diperlihatkan oleh orang tua.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang sekolah gratis, sesungguhnya kita sedang membahas satu bagian dari biaya pendidikan, bukan keseluruhannya.
Pendidikan tidak hanya membutuhkan ruang kelas dan guru. Pendidikan juga memerlukan perlengkapan belajar, transportasi yang memadai, akses terhadap informasi, serta lingkungan yang mendukung anak untuk tumbuh dan berkembang.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan langkah yang patut diapresiasi karena membantu mengurangi sebagian beban keluarga sekaligus meningkatkan kualitas gizi peserta didik. Namun, sebagaimana namanya, program itu menjawab kebutuhan gizi. Sementara kebutuhan pendidikan memiliki dimensi yang jauh lebih luas.
Inilah mengapa istilah "sekolah gratis" sering kali terasa berbeda dengan kenyataan yang dihadapi masyarakat. Bukan karena kebijakannya keliru, melainkan karena masih banyak biaya tidak langsung yang harus dipikul oleh keluarga.
Tentu tidak semua persoalan dapat diselesaikan sekaligus. Pemerintah memiliki keterbatasan anggaran dan harus menetapkan berbagai prioritas. Namun, setiap kebijakan pendidikan akan terasa lebih utuh apabila tidak hanya membebaskan biaya sekolah, tetapi juga terus mencari cara agar biaya-biaya pendukung pendidikan semakin terjangkau.
Sekolah pun dapat mengambil peran dengan membangun budaya yang sederhana dan tidak membebani orang tua. Prestasi anak tidak seharusnya diukur dari mahalnya perlengkapan yang dimiliki, tetapi dari semangat belajar, karakter, dan kemampuan yang mereka bangun setiap hari.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya investasi negara. Pendidikan adalah investasi setiap keluarga.
Di balik setiap anak yang berangkat ke sekolah dengan seragam rapi, ada orang tua yang bekerja lebih keras dari biasanya. Di balik setiap tas yang tergantung di pundak seorang siswa, ada doa-doa yang dipanjatkan agar anaknya memiliki masa depan yang lebih baik daripada orang tuanya.
Mungkin karena itulah, tidak ada orang tua yang benar-benar mengeluhkan biaya pendidikan. Mereka hanya berharap pengorbanan yang dilakukan hari ini kelak berubah menjadi senyum ketika melihat anak-anak mereka berhasil menggapai cita-cita.
Sebab bagi orang tua, pendidikan bukan sekadar soal biaya. Pendidikan adalah harapan. Dan setiap harapan selalu layak diperjuangkan bersama.
Penulis adalah Ketua DPC PPWI Aceh Singkil

Terimakasih Atas Kunjungannya, Silahkan berkomentar dengan bijak, Komentar Spam dan/atau berisi link aktif tidak akan ditampilkan. Terimakasih.