Oleh: Jamaluddin
Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, kita sering diajak percaya bahwa kebahagiaan harus dicari di tempat-tempat yang mewah. Restoran bergengsi, hidangan mahal, atau secangkir kopi dengan latar yang indah seolah menjadi ukuran keberhasilan menikmati hidup. Media sosial pun dipenuhi potret-potret yang memperlihatkan bahwa kebahagiaan selalu identik dengan kemewahan.
Padahal, hidup berkali-kali mengajarkan hal yang berbeda.
Malam itu, kami bertiga duduk mengelilingi sebuah meja kayu sederhana. Kami datang dari latar belakang yang berbeda. Ada yang mengabdikan diri dalam dunia keagamaan, ada yang menjalankan tugas negara, dan saya sendiri seorang wartawan. Namun ketika durian dibelah dan lemang disajikan, semua identitas itu seakan ditinggalkan di luar meja.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada kepentingan.
Tidak ada sekat.
Yang ada hanyalah tawa yang lepas, cerita tentang kehidupan, keluarga, pekerjaan, serta kenangan yang mengalir tanpa dibuat-buat. Sesekali tangan saling menyodorkan bagian durian yang paling manis, seolah mengajarkan bahwa kebahagiaan memang terasa lebih nikmat ketika dibagikan.
Di Aceh Singkil, pemandangan seperti ini bukanlah sesuatu yang asing.
Durian bukan sekadar buah musiman. Lemang bukan hanya makanan tradisional. Keduanya telah lama menjadi alasan untuk saling mengunjungi, mempererat silaturahmi, dan menghidupkan kembali percakapan yang mungkin sempat terputus oleh kesibukan.
Ketika musim durian tiba, undangannya pun sangat sederhana.
"Singgah dulu, durian sudah jatuh."
Kalimat itu terdengar biasa. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan nilai yang luar biasa. Ada keramahan, rasa saling memiliki, dan budaya berbagi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak perlu undangan resmi. Tidak perlu jamuan mewah. Kehadiran jauh lebih berharga daripada segala bentuk kemasan.
Sayangnya, kebiasaan seperti ini perlahan mulai memudar.
Kini banyak orang berada di ruangan yang sama, tetapi pikirannya berada di tempat yang berbeda. Mata lebih sering tertuju pada layar telepon genggam daripada wajah orang yang duduk di hadapannya. Percakapan semakin singkat, sementara notifikasi semakin panjang. Kita semakin mudah mengirim pesan, tetapi semakin sulit menyediakan waktu untuk benar-benar hadir.
Padahal, yang dirindukan manusia bukan sekadar komunikasi, melainkan kebersamaan.
Di meja sederhana itu saya kembali belajar bahwa persahabatan tidak membutuhkan tempat yang megah. Ia hanya membutuhkan waktu, keikhlasan, dan kesediaan untuk saling mendengarkan. Di hadapan durian dan lemang, perbedaan profesi, jabatan, bahkan pandangan, tidak lagi menjadi tembok yang memisahkan. Yang tersisa hanyalah rasa hormat dan persaudaraan.
Barangkali itulah kemewahan yang sesungguhnya.
Bukan ketika kita mampu membeli makanan paling mahal, tetapi ketika kita masih memiliki orang-orang yang bersedia duduk bersama tanpa menghitung untung dan rugi. Orang-orang yang datang bukan karena ada kepentingan, melainkan karena menghargai sebuah pertemuan.
Durian akan habis dimakan. Lemang akan tinggal daun pembungkusnya. Musim akan berganti, dan waktu akan terus berjalan.
Namun kenangan tentang tawa yang lahir di atas meja sederhana itu akan tetap tinggal.
Sebab pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa mewah tempat kita makan, melainkan dari siapa yang duduk bersama kita ketika menikmati kesederhanaan.
Karena persahabatan yang tulus selalu lebih bernilai daripada hidangan yang mahal, dan silaturahmi yang terjaga adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Media Singkil Terkini

Terimakasih Atas Kunjungannya, Silahkan berkomentar dengan bijak, Komentar Spam dan/atau berisi link aktif tidak akan ditampilkan. Terimakasih.