-->

Jabatan Bisa Dipinjamkan, Pengaruh Harus Diperjuangkan

REDAKSI


Oleh: Jamaluddin

Ada sesuatu yang menarik dalam kehidupan manusia. Ketika seseorang dilantik menjadi pemimpin, mendadak banyak orang ingin berada di dekatnya. Telepon yang sebelumnya jarang berdering menjadi sibuk. Undangan berdatangan. Tangan-tangan berebut untuk bersalaman. Bahkan senyum yang dulu terasa mahal, tiba-tiba menjadi begitu murah.

Sekilas, semua itu tampak seperti penghormatan.

Namun benarkah demikian?

Waktu sering memberikan jawaban yang lebih jujur daripada tepuk tangan. Ketika masa jabatan berakhir, keramaian perlahan menghilang. Kursi yang dulu ramai dikunjungi menjadi lengang. Orang-orang yang dahulu selalu mengatakan "siap" mulai sulit ditemui. Yang berubah bukan wajahnya, melainkan posisi yang ditempatinya.

Di sinilah kita sering keliru memahami kekuasaan. Kita mengira orang menghormati pribadi kita, padahal bisa jadi mereka sedang menghormati jabatan yang kita sandang.

Jabatan memang dapat membuka pintu. Akan tetapi, jabatan tidak pernah mampu membuka hati manusia. Hanya karakter yang dapat melakukannya.

Seorang kepala desa memiliki kewenangan menandatangani berbagai keputusan. Seorang bupati memiliki hak menentukan arah pembangunan. Seorang direktur dapat mengatur kebijakan perusahaan. Namun, kewenangan hanyalah alat. Pengaruh adalah hasil dari bagaimana alat itu digunakan.

Ada pemimpin yang setiap perintahnya dijalankan karena orang takut. Ada pula pemimpin yang kehadirannya saja sudah cukup membuat orang bergerak, bukan karena takut, melainkan karena percaya. Perbedaannya tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Rasa takut hanya bertahan selama kekuasaan masih berada di tangan. Kepercayaan mampu bertahan jauh setelah kekuasaan itu berakhir.

Lihatlah kehidupan di sekitar kita. Tidak sedikit tokoh masyarakat yang tidak memiliki jabatan apa pun, tetapi pendapatnya selalu didengar. Ketika ia berbicara, orang menyimak. Ketika ia memberi saran, orang mempertimbangkan. Ia tidak memiliki surat keputusan, tetapi memiliki sesuatu yang lebih mahal: kepercayaan.

Sebaliknya, ada pula mereka yang memiliki jabatan tinggi, kendaraan dinas, pengawal, dan segala fasilitas. Namun setiap ucapannya hanya didengar karena aturan, bukan karena keyakinan. Begitu masa jabatannya selesai, pengaruh itu ikut memudar. Yang tersisa hanyalah kenangan tentang sebuah kursi yang pernah diduduki.

Barangkali itulah sebabnya sejarah lebih banyak mengingat karakter daripada jabatan. Kita mengenang seseorang bukan semata karena ia pernah memimpin, tetapi karena bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika memimpin. Kekuasaan dapat membuat seseorang ditaati. Integritas membuatnya dikenang.

Dalam dunia jurnalistik, pelajaran ini juga berlaku. Sebuah media mungkin memiliki izin resmi, kantor yang megah, atau jumlah pengikut yang banyak. Namun semua itu belum tentu melahirkan pengaruh. Pengaruh lahir ketika masyarakat percaya bahwa setiap berita disusun dengan jujur, setiap kritik didasarkan pada fakta, dan setiap pujian tidak lahir karena kepentingan.

Kepercayaan adalah mata uang yang nilainya tidak pernah ditentukan oleh pasar. Nilainya ditentukan oleh konsistensi. Dibangun bertahun-tahun, tetapi dapat hilang dalam hitungan menit. Sekali rusak, ia meninggalkan bekas yang sulit dihapus.

Karena itu, sebelum mengejar jabatan, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: jika suatu hari jabatan itu hilang, masih adakah orang yang datang untuk sekadar mendengar pendapat kita? Jika jawabannya tidak, mungkin selama ini yang dihormati bukan diri kita, melainkan kursi yang sedang kita duduki.

Pada akhirnya, setiap jabatan memiliki batas waktu. Tidak ada keputusan yang berlaku selamanya. Tidak ada tanda tangan yang abadi. Cepat atau lambat, semua akan berakhir. Yang tetap tinggal hanyalah nama baik, atau sebaliknya, penyesalan yang diwariskan.

Maka, jangan terlalu bangga ketika jabatan membuat banyak orang mendekat. Tunggulah sampai jabatan itu pergi. Di situlah kita akan mengetahui siapa yang benar-benar menghormati pribadi kita, dan siapa yang selama ini hanya menghormati kekuasaan.

Sebab jabatan bisa dipinjamkan oleh negara, perusahaan, atau organisasi. Tetapi pengaruh hanya diberikan oleh kepercayaan.

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Media Singkil Terkini

Komentar Anda

Terimakasih Atas Kunjungannya, Silahkan berkomentar dengan bijak, Komentar Spam dan/atau berisi link aktif tidak akan ditampilkan. Terimakasih.

Berita Terkini