SINGKILTERKINI.NET,GUNUNG MERIAH – Menjelang peringatan Hari Jadi Kabupaten Aceh Singkil ke-27, sejumlah tokoh pejuang pemekaran, akademisi, pemuda, dan masyarakat berkumpul dalam sebuah forum diskusi untuk mengingat kembali perjalanan lahirnya daerah tersebut.
Diskusi bertajuk "Napak Tilas Melawan Lupa: Sejarah Perjuangan Pemekaran Aceh Singkil" digelar di kawasan Rimo, Kecamatan Gunung Meriah, Sabtu (25/4/2026). Forum itu menjadi ruang bersama untuk merawat memori kolektif tentang perjuangan panjang yang mengantarkan Aceh Singkil resmi menjadi kabupaten pada 27 April 1999.
Ketua panitia, Teungku Hambalisyah, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mengenang sejarah, tetapi juga mendokumentasikan peran para tokoh yang terlibat dalam proses pemekaran.
Menurutnya, sejarah perjuangan pemekaran harus disusun secara utuh agar tidak tergerus waktu maupun dipersepsikan secara sepihak oleh generasi berikutnya.
"Kami ingin sejarah ini tetap hidup dan menjadi pembelajaran bagi generasi muda. Harapannya, ke depan dapat disusun sebuah buku yang memuat perjalanan lengkap perjuangan pemekaran Aceh Singkil," ujarnya.
Enam tokoh yang terlibat langsung dalam proses pemekaran hadir sebagai narasumber. Mereka berbagi pengalaman, tantangan, serta berbagai pengorbanan yang dilakukan masyarakat demi mewujudkan berdirinya Kabupaten Aceh Singkil.
Suasana diskusi berlangsung hangat. Sejumlah kisah yang disampaikan narasumber mengungkap bagaimana masyarakat kala itu memberikan dukungan dalam berbagai bentuk, mulai dari tenaga, pikiran hingga bantuan materi.
H. Asmauddin, salah seorang pelaku sejarah pemekaran, mengisahkan besarnya semangat gotong royong masyarakat. Menurutnya, perjuangan tidak hanya dilakukan oleh segelintir tokoh, melainkan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
"Ada yang menyumbang ternak, hasil kebun, bahkan menghibahkan tanah untuk mendukung proses pemekaran. Semua bergerak dengan semangat yang sama," katanya.
Kisah lain datang dari Ahmad Yani yang saat itu dipercaya menangani berbagai kebutuhan administrasi dan penyusunan dokumen pengusulan pemekaran. Berbekal kemampuan komputer yang dimilikinya, ia mengaku mengerjakan berbagai berkas penting tanpa mengharapkan imbalan.
"Semua dilakukan karena keinginan melihat Singkil menjadi daerah otonom yang mampu berkembang dan mengurus rumah tangganya sendiri," ujarnya.
Dalam forum tersebut, para narasumber sepakat bahwa lahirnya Kabupaten Aceh Singkil merupakan hasil perjuangan kolektif masyarakat, bukan keberhasilan individu maupun kelompok tertentu.
Sejumlah peserta yang hadir juga mengusulkan agar jasa para pejuang pemekaran diberikan penghargaan yang layak, termasuk melalui pengabadian nama mereka pada jalan, gedung, atau fasilitas publik.
Selain itu, forum merekomendasikan penyusunan buku sejarah pemekaran yang komprehensif, pelaksanaan ziarah dan doa tahunan bagi para pejuang, serta pembentukan tim khusus untuk menelusuri dokumen dan jejak sejarah yang masih tersebar di berbagai daerah.
Diskusi ditutup dengan kesepakatan bersama bahwa sejarah pemekaran Aceh Singkil merupakan warisan seluruh masyarakat yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai sumber inspirasi pembangunan daerah.(Jamal)

Terimakasih Atas Kunjungannya, Silahkan berkomentar dengan bijak, Komentar Spam dan/atau berisi link aktif tidak akan ditampilkan. Terimakasih.