
Keluarga bayi asal Pertampakan, Aceh Singkil, mulai kehabisan biaya hidup dan pengobatan
SINGKILTERKINI.NET,ACEH SINGKIL – Dua puluh lima hari sudah Rani dan istrinya bertahan di Medan demi mendampingi putri mereka, Silviani Sahputri, bayi berusia satu tahun asal Desa Pertampakan, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil.
Mereka datang dari kampung dengan membawa uang Rp6 juta. Kini, uang itu mulai menipis. Selama berada di Medan untuk menjalani pengobatan di Bagian Bedah Anak RSU Imelda Pekerja Indonesia, uang tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari obat-obatan, tempat tinggal, makan, transportasi hingga pampers Silviani.
Padahal, perjuangan pengobatan Silvi belum selesai. Pada pertengahan Juli lalu, Silvi baru menjalani dua kali operasi dan masih harus kontrol dua kali dalam sepekan. Kini, menurut keluarganya, operasi yang dijalani telah bertambah menjadi tiga kali dan jadwal kontrol serta pelebaran saluran pembuangan meningkat menjadi empat kali dalam seminggu.
Artinya, hampir setiap dua hari Rani harus membawa putrinya kembali menjalani pemeriksaan dan tindakan medis.
Bagi keluarga yang sudah 25 hari bertahan di perantauan, setiap perjalanan menuju rumah sakit berarti ada biaya yang harus disiapkan.
Rani mengaku uang Rp6 juta yang dibawa dari Aceh Singkil sejak awal memang diperuntukkan untuk kebutuhan selama mendampingi Silvi.
Namun, kebutuhan hidup dan pengobatan yang terus berjalan membuat uang tersebut semakin cepat berkurang. "Uang Rp6 juta itu kami bawa semua dari kampung. Alhamdulillah sudah dipakai untuk biaya obat, tempat tinggal, makan dan transport selama 25 hari ini. Sekarang sudah sangat menipis," ujar Rani.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga berusaha menghemat sebisa mungkin. Bahkan untuk makan, mereka terkadang harus mengurangi porsi dan memilih lauk seadanya.
Rani mengaku pernah membagi seekor ikan untuk dua orang agar uang yang tersisa dapat digunakan untuk kebutuhan Silvi. Bagi mereka, makan sederhana tidak menjadi masalah selama pengobatan putrinya tetap bisa berjalan.
Pampers Tak Boleh Habis
Ada satu kebutuhan yang tidak bisa ditunda: pampers. Silvi harus menggunakan pampers setiap saat. Setiap kali buang air kecil maupun buang air besar, pampers harus segera diganti untuk menjaga kondisi saluran pembuangannya tetap kering dan mengurangi risiko infeksi setelah operasi.
"Silvi wajib memakai pampers setiap saat. Setiap kali BAK dan BAB harus langsung diganti untuk menjaga agar saluran pembuangannya tetap kering dan tidak infeksi. Kalau telat ganti, bisa berbahaya untuk kondisi pascaoperasi," kata Rani.
Kebutuhan yang terlihat sederhana itu menjadi pengeluaran rutin yang harus terus disediakan keluarga. Di sisi lain, Rani tidak lagi bisa bekerja seperti sebelumnya. Ia yang sehari-hari bekerja sebagai buruh harian harus meninggalkan pekerjaannya untuk mendampingi Silvi.
Sang ibu juga harus menjaga putrinya hampir sepanjang waktu. Tidak ada penghasilan tetap yang masuk, sementara biaya hidup dan pengobatan terus berjalan.
Keluarga berharap ada dukungan lanjutan dari masyarakat maupun Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil agar pengobatan Silvi dapat terus berlangsung hingga selesai.
Sebelumnya, Wakil Bupati Aceh Singkil H. Hamzah Sulaiman bersama istri telah mengunjungi keluarga Silvi di Desa Pertampakan dan menyerahkan bantuan. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah daerah juga menegaskan pentingnya mengawal proses pengobatan Silvi.
Kini keluarga kembali berharap perhatian dan pendampingan tersebut terus berlanjut. "Kami mohon kepada Pemkab Aceh Singkil agar tidak menutup mata dan dapat terus mengawal pengobatan Silvi sampai tuntas. Kami sudah sejauh ini, jangan sampai perjuangan Silvi berhenti di tengah jalan," harap Rani, Selasa (11/8/2026).
Bagi masyarakat yang ingin membantu meringankan beban keluarga Silvi, bantuan dapat disalurkan melalui:
Bank Syariah Indonesia (BSI)
Nomor Rekening: 7365704982
Atas Nama: Rani
Konfirmasi: 0821-8513-7825 (Rani)
Bagi Rani dan istrinya, perjalanan 25 hari di Medan bukan sekadar soal bertahan di perantauan. Ini tentang menjaga agar putri kecil mereka tetap mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan.
Mereka hanya berharap, ketika uang yang dibawa dari kampung semakin menipis, masih ada jalan agar perjuangan Silviani tidak ikut berhenti.
Penulis: Jamaluddin
Terimakasih Atas Kunjungannya, Silahkan berkomentar dengan bijak, Komentar Spam dan/atau berisi link aktif tidak akan ditampilkan. Terimakasih.