-->

Ahli Debat, Musuh Data

REDAKSI


HUMOR REDAKSI

Pagi itu, suasana ruang redaksi masih tenang. Aroma kopi baru diseduh memenuhi ruangan. Seorang wartawan baru saja membuka laptop ketika telepon genggamnya bergetar.

Notifikasi WhatsApp masuk.

"Bang, berita Abang salah!"

Wartawan tersenyum, lalu membalas dengan sopan.

"Terima kasih atas masukannya. Bagian mana yang menurut Bapak kurang tepat?"

Balasan datang sangat cepat.

"Semuanya."

Wartawan mengernyitkan dahi.

"Baik. Yang nomor satu dulu, bagian yang mana?"

Beberapa menit kemudian muncul jawaban.

"Pokoknya semuanya."

Merasa mungkin ada informasi yang terlewat, wartawan membuka kembali naskah berita. Ia mencocokkan hasil wawancara, dokumen, foto, hingga rekaman suara.

Setelah yakin semuanya sesuai, ia kembali membalas.

"Kalau ada data pembanding atau informasi tambahan, silakan dikirim. Kami siap melakukan koreksi apabila memang ada kekeliruan."

Beberapa saat kemudian...

Masuklah pesan yang sangat panjang.

Panjang sekali.

Saking panjangnya, layar ponsel harus digulir beberapa kali.

Isinya penuh tanda seru.

Ada huruf kapital.

Ada emoji marah.

Ada stiker mengepalkan tangan.

Ada GIF orang geleng-geleng kepala.

Yang belum terlihat hanya satu.

Data.

Wartawan kembali membalas dengan tenang.

"Terima kasih. Kami masih menunggu data atau bukti pendukung agar dapat kami pelajari."

Lima menit...

Sepuluh menit...

Tidak ada balasan.

Tiba-tiba muncul foto secangkir kopi.

Di bawahnya tertulis,

"Kopi pahit lebih enak daripada membaca berita ini."

Wartawan tersenyum.

Ia mengambil cangkir kopinya sendiri, memotretnya, lalu membalas.

"Kopi boleh pahit. Yang penting datanya jangan pahit dicari."

Tak lama kemudian grup WhatsApp menjadi ramai.

Ada yang mengirim emoji tertawa.

Ada yang mengirim stiker tepuk tangan.

Seorang anggota grup berkomentar,

"Kalau datanya lengkap, biasanya perdebatan selesai sebelum kopi habis."

Yang lain menambahkan,

"Kalau belum ada datanya, mungkin kopinya dulu yang dihabiskan."

Suasana grup yang semula panas perlahan berubah menjadi penuh tawa.

Sejak hari itu, setiap kali ada diskusi yang mulai memanas, selalu ada satu anggota yang mengingatkan,

"Tenang... kita cari datanya dulu."

Dan anehnya, setelah kalimat itu muncul, perdebatan biasanya langsung mengecil.

Mungkin bukan karena semua sudah sepakat.

Tetapi karena semua sibuk mencari bukti.

Di ruang redaksi, kopi memang sering menjadi teman berdiskusi.

Namun yang paling dicari bukan siapa yang paling pandai berdebat.

Melainkan siapa yang paling mampu menunjukkan fakta.


☕ Secangkir Kopi Redaksi

"Pendapat boleh berbeda. Data jangan sampai tertinggal."


Catatan Redaksi

Humor Redaksi merupakan karya fiksi yang terinspirasi dari berbagai fenomena kehidupan sehari-hari. Seluruh tokoh, dialog, tempat, dan alur cerita adalah rekaan untuk tujuan hiburan dan edukasi. Apabila terdapat kemiripan dengan seseorang, kelompok, atau peristiwa tertentu, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk merujuk kepada pihak mana pun.

Komentar Anda

Terimakasih Atas Kunjungannya, Silahkan berkomentar dengan bijak, Komentar Spam dan/atau berisi link aktif tidak akan ditampilkan. Terimakasih.

Berita Terkini