-->

Bahasa Kecil, Martabat Besar: Pelajaran dari Syarifudin Brutu untuk Aceh Singkil

REDAKSI

Syarifudin Brutu, penulis muda asal Aceh Singkil yang aktif mengangkat Bahasa Boang melalui karya literasi.

Oleh: Siti Khumairoh

Di tengah gemuruh bahasa-bahasa besar yang mendominasi panggung literasi di Aceh, ada satu suara kecil yang selama ini nyaris tak terdengar: Bahasa Boang. Bahasa yang hidup di percakapan sehari-hari, tetapi hampir tidak memiliki jejak dalam dunia tulis-menulis.

Pertanyaannya sederhana, namun menggelisahkan: jika sebuah bahasa tidak dituliskan, berapa lama ia bisa bertahan?

Jawaban atas kegelisahan itu perlahan mulai menemukan bentuknya melalui sosok muda bernama Syarifudin Brutu. Di usianya yang masih sangat belia, ia melakukan sesuatu yang bahkan belum banyak dilakukan oleh generasi sebelumnya menuliskan bahasa ibunya sendiri.

Prestasi yang diraihnya dalam Sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Aceh selama dua tahun berturut-turut (2025 dan 2026) memang patut diapresiasi. Namun, esensi dari capaian itu sesungguhnya jauh lebih dalam daripada sekadar kemenangan.

Ini adalah tentang keberanian melawan arus.

Selama ini, panggung literasi cenderung berpihak pada bahasa-bahasa dengan jumlah penutur besar, seperti Aceh dan Melayu. Sementara itu, Bahasa Boang berjalan dalam sunyi hidup, tetapi tidak dicatat; digunakan, tetapi tidak diwariskan dalam bentuk yang kokoh.

Di titik inilah Syarifudin hadir sebagai pengecualian.

Ia tidak hanya menulis cerita anak. Ia sedang membangun arsip. Ia sedang mencatat identitas. Ia sedang menolak lupa.

Langkah ini menjadi semakin penting jika melihat realitas di Aceh Singkil hari ini. Jumlah penulis sangat terbatas. Tradisi literasi belum tumbuh kuat. Dokumentasi budaya masih minim. Dalam kondisi seperti ini, kehilangan satu bahasa bukanlah hal yang mustahil melainkan sesuatu yang hanya menunggu waktu.

Kita sering membicarakan pembangunan dalam bentuk fisik: jalan, jembatan, gedung. Namun, kita jarang menyadari bahwa ada pembangunan lain yang jauh lebih sunyi, tetapi tidak kalah penting pembangunan identitas melalui bahasa dan tulisan.

Tanpa itu, sebuah daerah mungkin akan maju secara fisik, tetapi kehilangan jiwanya.

Apa yang dilakukan Syarifudin seharusnya menjadi tamparan halus bagi banyak pihak. Bahwa pelestarian bahasa tidak cukup hanya dengan kebanggaan lisan atau seremoni budaya. Ia membutuhkan tindakan nyata: menulis, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan.

Pertanyaannya kemudian beralih kepada kita semua: apakah kita akan membiarkan upaya ini berjalan sendiri?

Pemerintah daerah memiliki peran strategis untuk mendorong lahirnya lebih banyak penulis muda. Dunia pendidikan bisa menjadi ruang awal untuk memperkenalkan literasi berbasis bahasa lokal. Media, termasuk kita semua, memiliki tanggung jawab untuk memberi ruang bagi karya-karya daerah agar tidak tenggelam.

Karena pada akhirnya, bahasa bukan hanya alat komunikasi.

Ia adalah ingatan. Ia adalah identitas. Ia adalah martabat.

Dan melalui karya seperti “Aku Lako Laus”, kita diingatkan bahwa bahkan dari daerah yang sering dianggap pinggiran, selalu ada kemungkinan untuk berdiri di panggung utama selama masih ada yang berani menulis.

Aceh Singkil mungkin tidak memiliki banyak penulis hari ini. Tetapi satu langkah kecil telah dimulai.

Dan sejarah sering kali memang dimulai dari keberanian yang tampak sederhana.


Tulisan ini telah melalui proses penyuntingan redaksi tanpa mengubah substansi.

Komentar Anda

Terimakasih Atas Kunjungannya, Silahkan berkomentar dengan bijak, Komentar Spam dan/atau berisi link aktif tidak akan ditampilkan. Terimakasih.

Berita Terkini