SINGKILTERKINI.NET,ACEH SINGKIL – Ada yang berbeda dari kunjungan pejabat kali ini. Bukan peresmian proyek atau sidak pembangunan. Rabu pagi, 4 Juni 2025, Wakil Bupati Aceh Singkil, H. Hamzah Sulaiman, SH, berjalan masuk ke sebuah gubuk di Desa Bulu Ara, Kecamatan Suro. Di sanalah ia bertemu Rahmat Cibro, bocah yang tubuhnya rapuh karena pneumonia, terbaring di atas tikar tipis, dikelilingi dinding kayu lapuk dan atap yang nyaris roboh.
Hamzah tidak banyak bicara. Matanya berkaca-kaca, tangannya gemetar saat memegang kepala si bocah. Sejurus kemudian, air matanya luruh—bukan karena protokoler, tetapi karena kepedihan yang tak bisa disembunyikan.
“Saya minta kondisi anak ini dipantau setiap hari. Laporkan perkembangannya langsung kepada saya,” ujarnya dengan suara yang ditekan, namun sarat ketegasan.
Kunjungan itu bukan sendirian. Hamzah datang bersama rombongan lintas instansi: Plh. Kadis Sosial Suyatno, perwakilan Dinas Kesehatan, Sekretaris Baitul Mal Kabupaten Azma, serta petugas Puskesmas Suro. Semua hadir, menyaksikan dari dekat wajah kemiskinan yang kerap luput dari laporan birokrasi.
Ketika Gubuk Reot Menjadi Panggung Harapan
Di dalam gubuk itu, tinggal Manto Cibro, sang ayah, penjual es krim keliling, dan Nurbayani, ibu rumah tangga yang hanya bisa pasrah melihat anaknya melawan penyakit dengan tubuh yang semakin kurus. Manto mengaku tak pernah membayangkan pejabat setingkat wakil bupati akan datang langsung ke tempat tinggalnya yang hampir ambruk.
“Kami tidak menyangka. Ini sangat mengharukan,” ucapnya dengan mata berkaca.
Respons cepat langsung diambil. Dinas Kesehatan menjanjikan pemantauan rutin dan kemungkinan rujukan ke RSUD. Dinas Sosial berkomitmen mencarikan solusi rumah layak huni. Baitul Mal menyatakan akan memberikan bantuan bulanan dari dana zakat. Sementara Camat Suro menambah bantuan tunai secara pribadi.
Sebagai bentuk tanggap darurat, pemerintah menyerahkan bantuan makanan, susu, perlengkapan anak, dan uang tunai sebesar Rp1 juta. Simbol kecil yang membawa harapan besar.
Di tengah kesibukan politik pasca-pilkada, kunjungan ini terasa seperti jeda yang penuh makna. Bukan sekadar pencitraan, tetapi penegasan: bahwa negara, sesekali, masih tahu cara mengetuk pintu rakyatnya.
“Ini bukti nyata bahwa pemerintah hadir di tengah rakyat yang membutuhkan,” ujar Syafrudin, S.Pd, Kasie Pemerintahan Kecamatan Suro, diamini oleh Kepala Desa Bulu Ara, Sahiduna.
Tak banyak pejabat yang menangis di hadapan rakyatnya. Tapi pagi itu, di sebuah gubuk yang tak masuk radar pembangunan, air mata Hamzah menjadi pesan yang lebih kuat daripada pidato-pidato di ruang dingin ber-AC. Ia datang, menyapa, dan meninggalkan janji: Rahmat tidak akan dibiarkan berjuang sendiri. (JML)
Terimakasih Atas Kunjungannya, Silahkan berkomentar dengan bijak, Komentar Spam dan/atau berisi link aktif tidak akan ditampilkan. Terimakasih.