-->

116 Desa, 116 Cerita yang Mungkin Kita Lupakan

REDAKSI

(Ilustrator: Siti Khumairoh)

Oleh: Syarifudin Brutu

Coba jawab dulu sebelum melanjutkan membaca: tahukah kamu dari bahasa apa nama desamu berasal dan apa artinya?

Kalau jawabannya “tidak tahu”, kamu tidak sendirian. Saya pun awalnya begitu, sampai suatu malam sebuah kalimat di TikTok membuat saya penasaran: “Sering kali kita kehilangan karena kita mulai tidak peduli.”

Kalimat itu biasanya digunakan untuk berbicara tentang hubungan atau persahabatan. Namun malam itu saya justru memikirkan hal lain: bagaimana jika kalimat tersebut juga berlaku untuk hubungan kita dengan kampung halaman sendiri?

Sebagai anak Aceh Singkil yang kebetulan kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Syiah Kuala, saya kemudian iseng mencari tahu: ada berapa desa di Aceh Singkil?

Jawabannya, 116 desa yang tersebar di 11 kecamatan.

Saya lalu mencoba memperhatikan satu per satu nama desa tersebut. Dari sana muncul sesuatu yang menarik. Nama-nama desa di Aceh Singkil memiliki latar bahasa dan cerita yang beragam. Ada yang berkaitan dengan bahasa Boang, bahasa Melayu Pesisir, bahasa Indonesia, hingga pengaruh bahasa dari daerah lain.

Namun, di balik keberagaman itu, ada satu persoalan yang membuat saya berpikir: banyak di antara kita yang tinggal di sebuah desa, tetapi tidak mengetahui arti atau asal-usul nama desa tersebut.

Saya dan kawan saya, Siti Khumairoh, kemudian mencoba bertanya kepada beberapa anak muda, termasuk Generasi Z dan Alpha.

Pertanyaannya sederhana: “Tahu nggak arti nama desamu?”

Jawabannya hampir seragam. Gelengan kepala, senyum canggung, atau sekadar menjawab, “Tidak tahu.”

Tentu, ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Bisa jadi memang tidak pernah ada yang menceritakannya.

Padahal, nama sebuah desa bisa menjadi dokumen sejarah yang berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia tidak membutuhkan lemari arsip. Ia cukup hidup dalam percakapan masyarakat.

Contohnya Desa Buluh Dokhi.

Dalam penelusuran yang kami lakukan, “buluh” dalam bahasa Boang berarti bambu, sedangkan “dokhi” merujuk pada jenis bambu berduri. Nama tersebut memberi gambaran tentang lingkungan yang pernah dikenal dengan keberadaan tumbuhan tersebut.

Hari ini, kondisi lingkungan tentu dapat berubah. Tumbuhan yang dahulu mudah ditemukan bisa saja semakin jarang atau bahkan tidak lagi terlihat. Namun, namanya tetap bertahan.

Di sinilah menariknya sebuah nama tempat.

Nama desa bukan sekadar tulisan pada papan nama atau alamat di kartu identitas. Ia bisa menyimpan jejak tentang apa yang pernah tumbuh, terlihat, dilakukan, atau dianggap penting oleh masyarakat pada masa lalu.

Hal serupa dapat dilihat pada nama Buluh Ara dan Buluh Sema. Kehadiran kata “buluh” pada sejumlah nama tempat setidaknya memberi petunjuk bahwa bambu memiliki keterkaitan dengan lingkungan maupun kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.

Nenek moyang kita kemungkinan tidak memberi nama tempat secara sembarangan. Nama-nama itu lahir dari apa yang mereka lihat, mereka temukan, atau mereka alami dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam ilmu bahasa, hubungan antara bahasa dan lingkungan dikenal melalui kajian ekolinguistik. Salah satu hal yang menarik untuk dilihat adalah bagaimana lingkungan alam dapat meninggalkan jejak di dalam bahasa.

Nama tempat dapat menjadi salah satu jejak tersebut.

Ketika alam berubah, nama tempat sering kali tetap bertahan.

Persoalannya muncul ketika cerita di balik nama itu tidak lagi diwariskan. Nama tetap ada, tetapi maknanya perlahan hilang dari ingatan masyarakat.

Saya dan Siti juga pernah mencoba menelusuri hal tersebut melalui penelitian kecil tentang Desa Pea Bumbung.

Dalam penelusuran tersebut, “pea” dalam bahasa Boang dipahami sebagai rawa yang tenang, sedangkan “bumbung” berkaitan dengan nama tumbuhan yang tumbuh di sekitar kawasan sungai atau rawa.

Jika penjelasan tersebut benar dan terus dapat dibuktikan melalui penelusuran sumber lisan maupun kebahasaan, nama Pea Bumbung bukan sekadar sebuah nama. Ia menggambarkan hubungan antara masyarakat masa lalu dengan lingkungan tempat mereka hidup.

Sebuah nama ternyata bisa menjadi potret masa lalu.

Sekarang bayangkan jika cerita-cerita seperti itu terus dibiarkan tanpa penjelasan sampai satu generasi lagi.

Anak cucu kita mungkin tetap tinggal di desa yang sama, melewati jalan yang sama, bahkan menyebut nama desanya setiap hari. Namun mereka tidak lagi mengetahui mengapa tempat itu disebut demikian.

Kita akhirnya memiliki tempat yang penuh nama, tetapi kehilangan cerita di baliknya.

Bagi saya, itu adalah bentuk kehilangan yang cukup halus. Tidak seperti kehilangan hutan, sungai, atau bangunan bersejarah yang bisa langsung terlihat. Yang hilang adalah pengetahuan.

Dan kehilangan pengetahuan sering kali baru disadari ketika orang yang menyimpannya sudah tidak ada.

Saya tidak menuntut semua orang menjadi peneliti bahasa daerah. Harapan saya jauh lebih sederhana: mulai bertanya.

Tanyakan kepada orang tua. Tanyakan kepada kakek dan nenek. Tanyakan kepada tetua kampung. Tanyakan kepada orang-orang yang mungkin masih menyimpan cerita tentang asal-usul nama desa kita.

Kalau perlu, catat dan dokumentasikan.

Sekolah-sekolah di Aceh Singkil juga dapat mengambil bagian dengan mengenalkan asal-usul nama desa melalui pembelajaran muatan lokal. Dengan begitu, anak-anak tidak hanya mengenal kampung mereka sebagai sebuah titik di peta, tetapi juga memahami cerita yang membentuk identitas tempat tersebut.

Sebab, sebuah kampung bukan hanya tanah tempat kita dilahirkan.

Di dalamnya ada bahasa, lingkungan, ingatan, kebiasaan, dan cerita yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Dan mungkin benar kalimat yang saya baca malam itu: sering kali kita kehilangan karena kita mulai tidak peduli.

Bukan hanya kehilangan dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga kehilangan hubungan dengan tanah kelahiran sendiri.

Kita bisa kehilangan cerita bukan karena bencana besar, melainkan karena kita berhenti peduli untuk sekadar bertanya.

Jadi, dari 116 desa di Aceh Singkil, berapa banyak cerita yang masih kita ingat?

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Syiah Kuala.

Komentar Anda

Terimakasih Atas Kunjungannya, Silahkan berkomentar dengan bijak, Komentar Spam dan/atau berisi link aktif tidak akan ditampilkan. Terimakasih.

Berita Terkini