SINGKILTERKINI.COM, SURABAYA - Ada saja tingkah Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, setelah merobohkan Masjid Assakinah yang merupakan Cagar Budaya tanpa izin, sekarang membangun kembali dengan syarat.
Hal itu terjadi saat koordinasi yang di selenggarakan oleh Komisi C DPRD Surabaya yang dihadiri oleh beberapa seniman dari DKS, BMS dan KBRS, rabu (20/12/2107).
Sebelumnya, dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan menggelar orasi, massa yang terdiri dari para seniman dan dikawal oleh PagarJati, Laskar Merah Putih, Komunitas Bambu Runcing Surabaya, masyarakat Stren Rel kereta api yang tergabung dalam TAP MPRS dan beberapa Elemen korban penutupan Dolly, Stren Kali dan lain – lain melewati Masjid Assakinah yang telah menjadi puing-puing untuk menuju ke gedung DPRD Kota Surabaya.
Para seniman dengan semangat mencegah pembangunan Gedung 7 lantai milik DPRD yang dinilai telah menghalalkan segala macam cara, bahkan hati nurani pun telah hilang untuk membangun gedung tersebut dengan meluluh lantakkan Masjid Assakinah.
Menurut Advokat DKS kepada wartawan mengatakan, dengan menghancurkan Masjid Assakinah dan membangun Gedung DPRD 7 Lantai oleh Pemkot Surabaya, dianggap telah menghilangkan View Balai Pemuda sebagai Kawasan Terbuka dan Cagar Budaya. "Selain itu akan menghancurkan Oase Kebangsaan Surabaya, " ujarnya.
Didalam Hearingpun sempat terjadi kericuhan akibat ditumpangi oleh orang yang tidak bertanggung jawab dengan mengaku sebagai Seniman. Bahkan, provokator tersebut sempat mencaci para Seniman DKS. Sedangkan Ketua DKS sendiri tidak pernah mengenal oknum tersebut.
Anehnya, Kepala Dinas Cipta Karya Kota Surabaya, Erick Tjahyadi ikut membawa Ormas Keagamaan yang membuat rapat semakin tidak kondusif dan rentan terjadi benturan.
Padahal, sehari sebelum rapat, Kanit Reskrim Polsek Genteng, AKP Joko menjelaskan bahwa Gedung Dewan berada di samping dan tidak menggusur Masjid, menempatkan DKS dan BMS di Balai Pemuda serta tidak menggusur dua orang ibu yang mencari nafkah di Balai Pemuda.
Ajaibnya, pada saat dilakukan peninjauan ke lokasi, sempt terjadi saling lempar kesalahan antara Kepala Dinas Cipta Karya dengan Kepala Dinas Pariwisata Kota Surabaya.
Mereka masing-masing saling tuding menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas di robohkannya Masjid Assakinah.
Erick meminta untuk melakukan perobohan secara simbolik, tetapi hal tersebut di tolak oleh KBRS sebelum hari Jumat dan sekalian permisi dulu ke DKS dan BMS.
Sebelum melakukan pembongkaran secara simbolik dan membangunnya kembali, pemkot surabaya harus melakukan Tahlilan terlebih dahulu pada hari Kamis (21/12/2017).
Dikesempatan yang sama, salah seorang Takmir KBRS, Isa mengatakan sebagai orang timur yang santun, Semestinya punya etika yang baik.
"Orang bangun rumah saja biasanya minta izin dulu ke tetangga dan kalau perlu membuat bubur merah agar berkah, ini membangun dengan dana milyaran kenapa tidak mengunkan etika", ucapnya dengan nada kesal.
Sudah main gusur, lanjut Isa, masak tidak ada doa sama sekali. "Alangkah lebih baiknya, sebelum melakukan pembangunan, di adakan doa bersama agar pembangunan Masjid ini lancar dan berkah" sarannya. [Tim/Red]

Terimakasih Atas Kunjungannya, Silahkan berkomentar dengan bijak, Komentar Spam dan/atau berisi link aktif tidak akan ditampilkan. Terimakasih.